Posts

Showing posts from July, 2026

Mahkota Dewa, Tanaman Seribu Obat

  Di dunia obat-obatan herbal,   Mahkota Dewa   bukan nama yang asing. Tumbuhan yang berasal dari negara tetangga, Papua Nugini ini memiliki banyak nama, antara lain: daun dewa, sambung nyawa, ngokilo, a makuto rojo, makuto ratu, makuta dewa (Jawa), simalakama (Melayu,  Crown of God (bahasa Inggris).  Sedangkan berdasarkan para ahli botani, nama latin tanaman ini adalah   Phaleria macrocarpa   yang diambil dari ukuran buahnya yang besar (macro=besar). Dalam perkembangan selanjutnya, anggota famili Thymelaeaceae ini banyak dibudidayakan oleh masyarakat di sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta. Mahkota dewa  banyak dibudidayakan masyarakat sebagai tanaman peneduh atau sebagai tanaman hias di pekarangan. Termasuk tanaman yang mudah tumbuh karena tidak memerlukan banyak konsumsi air, pupuk serta perawatan dari hama dan mampu hidup di wilayah dengan ketinggian antara 10-1.200 meter dpl. Untuk mengembangbiakkan tumbuhan ini, biasanya men...

Gugurnya Adisucipto .

Gugurnya Adisucipto . Tahukah kamu? Salah satu pahlawan TNI Angkatan Udara gugur bukan saat menyerang musuh, tetapi ketika menjalankan misi kemanusiaan. Namanya Komodor Muda Udara Anumerta Agustinus Adisutjipto , pilot pertama Angkatan Udara Indonesia yang lahir di Salatiga pada 4 Juli 1916. Pada Agresi Militer Belanda I tahun 1947, Adisutjipto bersama Abdulrahman Saleh menerbangkan pesawat Dakota VT-CLA, menuju India untuk menembus blokade udara Belanda. Misi itu berhasil membawa pulang bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya, yang sangat dibutuhkan Indonesia. Namun, saat pesawat hendak mendarat di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta, pada 29 Juli 1947, dua pesawat tempur Kittyhawk Belanda tiba-tiba menyerang. Pesawat Dakota jatuh. Agustinus Adisutjipto gugur bersama Abdulrahman Saleh dan sejumlah penumpang lainnya. Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai salah satu tragedi terbesar dalam sejarah TNI Angkatan Udara. Gugurnya Adisucipto dan kawan-kawan #SejarahIndonesia #Sejar...

Lulus S3 di Usia 27 Tahun, Yesita Jadi Doktor Termuda UGM dengan IPK 3,99

Yesita Vera Saraswati mencatat prestasi membanggakan dengan menjadi wisudawan termuda Program Doktor pada Wisuda Pascasarjana Periode IV Universitas Gadjah Mada (UGM). Perempuan asal Klaten, Jawa Tengah, itu menyelesaikan Program Studi Doktor Ilmu Peternakan dalam waktu 3 tahun 9 bulan 10 hari dan lulus dengan predikat cumlaude serta IPK 3,99. Saat diwisuda, usia Sita baru 27 tahun 10 bulan. "Rasanya luar biasa. Ada perasaan lega ketika segala sesuatu yang dulunya terasa sangat berat akhirnya terbayar setelah lulus," ujarnya. Selama menempuh studi, Yesita Vera tidak hanya menyelesaikan disertasi, tetapi juga memimpin tim penelitian yang beranggotakan sekitar 70 hingga 80 mahasiswa S1 dan S2 dari berbagai laboratorium. Melalui Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), Sita meneliti pengembangan ayam lokal melalui persilangan dan seleksi genetik. Penelitiannya bertujuan menghasilkan galur ayam lokal baru yang memiliki kualitas genetik le...